Friday, May 15, 2020

50 Fakta Kehidupan Yang Terlupakan (Fakta Kehidupan Ke-1)


Bab 1

Hubungan Antar Manusia

Fakta Kehidupan Ke-1

“Tidak semua orang suka apa yang anda lakukan, akan selalu ada yang pro dan kontra, meskipun yang anda lakukan itu baik dan benar. Bersabar dan hadapi dengan tenang.“

Wati sedang berusaha mengurangi penggunaan kantong plastik untuk belanja, salah satunya saat belanja ke warung. Ia membawa sendiri kantong plastik dari rumah untuk membawa belanjaannya. Namun, saat Wati akan membayar belanjaannya dan menyerahkan kantong plastik yang ia bawa, sang pemilik warung justru meledek Wati.  Beliau mengira Wati khawatir akan dikenakan biaya tambahan untuk kantong plastik baru seperti di supermarket. 

Beliau pun mengkritisi rencana peraturan pemerintah yang dianggap terlalu berlebihan mengenai penggunaan kantong plastik. Pada akhirnya, beliau mengambil kantong plastik baru untuk memasukkan belanjaan Wati dan kantong plastik Wati dimasukkan ke dalam kantong plastik baru. Wati hanya bisa tersenyum kecut.

Pernahkah anda mengalami hal seperti di atas? Anda berusaha berbuat baik, namun ada yang tidak suka. Pasti pernah. Mulai dari pengalaman di sekolah, tempat kerja, di keluarga, hingga saat ini di jagad dunia maya.

Kita sudah merasa apa yang kita lakukan itu benar, namun mengapa ada saja yang mengkritik bahkan menghujat dengan begitu sadis?

Itulah hidup.

Sebaliknya yang kita anggap hal-hal buruk ada saja yang menyukai bahkan banyak yang mengikuti. Lagi-lagi kita bingung, koq bisa?

Jangan terkejut. Itulah hidup.

Coba ingat Nabi Muhammad SAW. Beliau sudah menyampaikan firman Allah SWT yang terjamin kebenaran dan kebermanfaatannya. Namun apa yang terjadi? Ada yang menerima dan menolak. Tak sedikit yang ingin membunuh beliau.

See? Itulah hidup. Akan selalu ada yang setuju dan tidak. Ada yang menyukai dan membenci. Seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi.

Kita tidak bisa mengubah fakta kehidupan tersebut. Namun dengan mengetahui ini kita bisa lebih lega menjalaninya. Teruslah melakukan hal yang kita anggap baik dan berguna. Orang mau mencemooh? Silahkan, itu hak dia. Jangan jadikan cemoohan penghalang untuk terus berjalan. Justru jadikan lecutan untuk semakin melaju ke depan. Itulah fakta kehidupan.

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch23

#Day2

Read more story in KBM app.

50 Fakta Kehidupan Yang Terlupakan (Pendahuluan)


50 Fakta Kehidupan Yang Terlupakan
(Sebuah Buku Untuk Menerapi Hati)

-Pendahuluan-

Wati memiliki seorang ibu yang toxic, kurang berempati, dan hobi berutang. Ia merasa hidupnya penuh penderitaan sejak kecil.  Saat meneruskan pendidikannya di universitas, ia bertemu dengan seorang teman pria yang akhirnya melamar dan menikahinya. Wati merasa pernikahannya ini adalah awal dari kebahagiaan dimana ia bisa lepas dari ibunya yang toxic. Namun ternyata, setelah menikah masalah lamanya masih mengikuti dan ia justru bertemu masalah baru yang lebih pelik dari mertua, ipar, anak, pekerjaan, tetangga, dan sebagainya. Ya Itulah fakta kehidupan. 

Semakin bertambah usia, semakin banyak peran yang kita emban dalam kehidupan. Kita tidak hanya sebagai diri sendiri, kita akan berperan sebagai orangtua, pasangan, kerabat, teman, dan sebagainya. Kita mulai menyadari bahwa hidup ini banyak masalah dengan adanya peran-peran itu. Terkadang ada masalah yang bisa kita selesaikan sendiri, ada juga yang harus kita selesaikan bersama orang lain. Ada juga masalah yang tidak bisa selesai bahkan sampai kita meninggalkan dunia ini.

Mark Manson (2016) dalam buku "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" menyatakan bahwa hidup pada  dasarnya adalah rangkaian masalah yang tidak ada akhirnya. Satu masalah selesai akan diikuti oleh masalah berikutnya. 

Masalah-masalah itu sedikit banyak membuat tekanan dalam hidup kita baik secara emosi bahkan fisik. Sayangnya kita tidak bisa kabur dari masalah tersebut. Karena faktanya ketika kabur dari satu masalah, maka kita akan menemukan masalah lain atau bahkan menambah masalah baru. Daripada begitu lebih baik menghadapi masalah yang ada kan?
 
Meskipun begitu, masalah bisa dihadapi dengan mengetahui fakta kehidupan yang ada. Ya, kadang kita tidak menyadari bahwa hidup itu ya memang begitu. Kita tidak bisa mengubah konsep hidup yang seperti itu, namun kita bisa mengubah cara kita menerimanya. 

Melalui buku ini saya ingin berbagi fakta-fakta kehidupan yang ada di sekeliling kita untuk mengubah cara pandang kita agar bisa lebih menikmati kehidupan, dapat mengatasi masalah yang ada, dan akhirnya mampu bersyukur dengan hidup ini bagaimanapun situasinya.

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch23
#Day1

Ketika Malaikat Maut Menjemput


Ponselku berdering, nomor tak dikenal terlihat di layar. Ragu kuangkat, namun rasa penasaran merasuk. Akhirnya kusentuh tombol hijau di layar.

"Assalamualaikum", sapaku.

"Waalaikumsalam," sahutnya, "dengan Pak Fulan bin Fulan?"

"Betul. Ada yang bisa saya bantu?", jawabku.

"Saya Izrail. Besok pagi bapak akan saya jemput," ujarnya tegas.

"Izrail? Dijemput? Anda ini siapa?"

"Saya Malaikat Izrail."

"Anda jangan bercanda!"

"Saya tidak bercanda. Malaikat tidak pernah bercanda."

"Ke.. kenapa saya? Saya masih muda. Saya masih belum benar ibadahnya. Saya belum mapan. Saya masih punya tanggungan istri dan anak yang masih kecil. Saya belum berbakti penuh pada orangtua. Bahkan saya masih memiliki nenek berusia sangat lanjut. Mengapa tidak beliau duluan?" bertubi-tubi pertanyaan kuajukan mengikuti rasa kagetku.

"Maaf saya hanya menjalankan perintah. Tertulis di sini anda akan dijemput besok pagi setelah subuh."

"Tidak bisakah saya minta penangguhan?"

"Maaf kematian tidak bisa ditangguhkan. Tidak mengenal usia, status ekonomi, status sosial, status pernikahan, status keimanan dan ketakwaan". 

"Jadi, besok saya dijemput?"

"Benar. Anda beruntung bisa mempersiapkannya. Sampai bertemu besok. Assalamualaikum."

"Waaalaikumsalam," jawabku lirih.

Kutatap jam, kurang dari 24 jam lagi ia kan datang, malaikat maut itu.

Pikiranku dipenuhi segala sesuatu yang ingin kulakukan dalam waktu sesingkat itu. Segera kuraih kembali ponsel, kuhubungi satu persatu keluarga, orangtua, saudara, kerabat, teman, dan semua orang yang kukenal.

Kumohon maaf atas kesalahanku selama ini. 
Segera kupanggil istri dan anak-anakku. Kuberi wasiat pada mereka agar mereka tabah sepeninggalku dan tetap menjalani hidup dengan baik. Kuberpesan pada anak-anak agar tak henti mendoakanku setiap hari.

Kusedekahkan harta-hartaku pada yang membutuhkan agar tak menjadi bebanku kelak. Kuberharap mereka bisa menyelamatkanku di hari pengadilan nanti.

Kudelegasikan semua pekerjaan yang belum terselesaikan pada rekan-rekanku.
Kupamit pada tetanggaku sekaligus memohon maaf dan menitipkan keluargaku.

Tersisa beberapa jam lagi. Kubersimpuh di atas sejadah. Kulakukan sholat-sholat terakhirku dengan penuh kekhusyukan, kubaca Quran dengan lirih, kuberdzikir dan kupanjatkan doa dengan linangan air mata. Ada sebersit penyesalan kenapa tidak dari dulu kulakukan ini.

...

Tersisa beberapa menit lagi, beberapa detik lagi. Adzan subuh berkumandang syahdu. Segera kulaksanakan sholat tanpa menunda lagi. Kupasrahkan segala sesuatu di dunia ini dan kuserahkan jiwaku kembali pada Yang Maha Menciptakan. 

Kurasakan jiwaku mulai ditarik lepas keluar. 
"Laa ilaaha illallah."

"Allahu Akbar... Allah....hu Akbar".

Mataku terbelalak. Jantungku berdegup keras. Keringatku mengucur deras dari kening. Kusegera bangkit duduk. Kudengarkan seruan adzan dari luar.

Astaghfirullah ternyata ini hanya sebuah mimpi. Masih tak percaya kutampar pipiku. Sakit.

Astaghfirullah. Mimpi, malaikat maut itu mimpi. Namun rasanya begitu nyata sampai perasaanku terbawa.

Astaghfirullah. Ini pasti sebuah peringatan agar aku tak lalai lagi. Seruan adzan sudah berakhir. Segera kubangkit berdiri untuk membersihkan diri dan menuju seruan itu berasal.

"Kami turut berduka bu. Insya Allah beliau husnul khotimah. Wafat dalam keadaan sujud di masjid." 

Kudengar seorang tetangga menyampaikan kata-kata belasungkawa pada wanita di depanku.

Air matanya masih terlihat di sudut mata. Namun ia sudah terlihat tabah. Ia menatap seonggok tubuh yang terbaring kaku di tengah ruang tamu, berselimut helaian lembaran putih dan kain samping. 

Tak lagi ia bisa berbicara, tak lagi ia bisa mendengar, dan menyentuh. Tugasnya telah berakhir. Itulah diriku yang telah mati.

Setelah tubuhku dibalut kain kafan, perlahan jasadku diangkat menuju tempat peristirahatan terakhirku.  Orangtuaku, saudaraku, istriku, anak-anakku, tetanggaku, teman-temanku, dan lainnya mengikuti iringan keranda. 

Jasadku telah terkubur di bawah tanah. Taburan bunga memenuhi pusara. Satu per satu pelawat meninggalkan tanah basah ini. Istri dan anakku bertahan paling akhir. Setelah menyentuh nisanku perlahan mereka beranjak pergi. Akhirnya tinggal roh ini yang harus mempertanggungjawabkan segala yang diperbuat kelak.

-Tamat-

------------------------------------------
Terimakasih yang sudah membaca dari awal sampai akhir. Dimohon kesediaannya untuk menulis komentar atau hikmah yang didapat dari cerpen ini.

Sukses Itu Butuh Perjuangan Bro!

Di tengah pandemi gini bibit iri dengki yang sudah tertanam semakin tumbuh mengganas dan menggerogoti hati. 

Ya itulah yang saya rasakan ketika melihat rekan-rekan yang tetap bisa eksis secara ekonomi bahkan terkesan semakin sukses walau harus di rumah aja.

Hm namun saya tersadar ketika membaca buku Mark Manson: The Subtle Art Not Giving A F*ck. 

Di sana dituturkan bahwa kita cenderung ingin sesukses orang lain namun kita tidak ingin merasakan pahitnya perjuangan mereka untuk mencapai itu.

Bener ngga?

Kita iri melihat orang yang sukses menjadi pembisnis. Tapi kita tidak melihat berapa banyak waktu, tenaga, uang, hingga air mata yang ia habiskan untuk mencapai itu.

Kita iri melihat orang yang karirnya sukses. Tapi kita tidak melihat berapa banyak waktu berharga dengan keluarga yang harus ditinggalkan untuk mencapai itu.

Kita iri melihat orang yang penampilannya menawan. Tapi kita tidak melihat berapa banyak uang yang harus dihabiskan untuk perawatan yang perih.

Kita iri melihat orang yang gelar akademiknya panjang. Tapi kita tidak melihat betapa lelahnya ia siang malam belajar, mengorbankan waktu bersenang-senang dengan teman, hingga jauh dari keluarga demi mencapai cita-cita.

Ya, kita cenderung ingin suksesnya tapi tidak ingin perjuangannya.

Daripada terus iri dengki melihat kesuksesan orang lain. Lebih baik kita fokus pada diri sendiri dan mulai merasakan perjuangan untuk mencapai kesuksesan yang juga kita inginkan.

Siap?

Tuesday, May 5, 2020

Mau Tau Cara Meningkatkan Penjualan Lewat Tulisan?


Hari gini banyak orang memanfaatkan media online untuk berjualan. Karena memang sudah zamannya ditambah masa #pandemi membatasi kita untuk berinteraksi. ⁣
Ada yang beruntung meraih #untung. Ada juga yang malah #buntung. Kenapa ya?⁣
Ternyata eh ternyata ada yang mereka lewatkan dari berjualan #online yaitu dasyatnya tulisan.⁣
Tak bisa dipungkiri headline tulisan itu memancing rasa penasaran. Kemudian isinya menambah kepuasan. Ujung-ujungnya terjadilah closing atau penjualan. Asyik kan?⁣
Nah terus gimana donk bisa menghasilkan tulisan yang bikin penasaran sekaligus memuaskan itu?⁣
Tentunya harus tau ilmunya #juragan.⁣
Nah di kelas #menulis ini kamu akan tau rahasianya sekaligus langsung praktek caranya.⁣
Penasaran? Langsung cus aja ke sini biar kamu terpuaskan.⁣
Sedikit bocoran, pematerinya ngga usah diragukan, sudah berpengalaman dan ngga pelit ngasih masukan. ⁣
Ah udah deh lebih lengkapnya klik link ini: certified impactful writer

Thursday, April 30, 2020

INILAH CARA MENGHASILKAN RUPIAH DARI RUMAH⁣⁣


Hi guys, udah sebulan lebih ya kita di rumah aja. #Bosan ngga sih? ⁣
Buat yang suka wara-wiri pastinya keadaan ini sangat menyiksa diri. ⁣
Tapi buat yang senang di rumah sih kayaknya ngga jadi #masalah.⁣
Kalian tau ngga banyak yang kehilangan #pekerjaan karena #pandemi ini? Boleh jadi salah satunya kamu. ⁣
Kamu ngga sendiri sob, aku pun begitu.⁣
Tapi bukan berarti kita meratapi #nasib terus. Boleh jadi ini adalah #momentum kita untuk mencari jalan #hidup yang lebih baik.⁣
Nah boleh jadi salah satunya dengan cara #workfromhome sebagai #penulispreneur.⁣
Apa sih penulispreneur itu?⁣
Penulis + entrepreneur. Artinya profesi yang mendapatkan #penghasilan dari #tulisan.⁣
Caranya?⁣
Yuk ikutan dulu kelasnya di sini.⁣

Aku sudah ikutan dan dampaknya luar biasa sob. Mindset-ku berubah. Cobain deh.⁣
Cukup klik link di atas untuk mengetahui lebih lanjut dan bersiap-siaplah menghasilkan #RUPIAH hanya dari #RUMAH. ⁣
SERIUS? Coba aja dulu.⁣
#DiRumahAja

Monday, April 13, 2020

Pandemi Menyerang, Ibu Tetap Tenang. Inilah 7 Jurus Anti Bimbang.


Sudah hampir sebulan kita dihimbau untuk #dirumahaja demi mencegah penyabaran wabah covid-19. 

Ada yang masih bisa bekerja, belajar, dan berwirausaha dari rumah. Ada juga yang tetap harus keluar rumah karena tuntutan hidup.

Entah sampai kapan keadaan seperti ini?

Apakah keadaan dari hari ke hari semakin baik atau semakin memburuk? 

Apakah kita selamat dari wabah ini atau justru kitalah korban selanjutnya?

Informasi mengenai wabah ini gencar di mana-mana terutama sosial media. Ada yang berupa fakta, ada yang hoax. Ada yang isinya bernuansa negatif, ada yang positif. 

Secara tidak langsung informasi itu mempermainkan pikiran dan perasaan kita hingga tak sedikit yang menjadi stress dan depresi. 

Terutama mereka yang secara ekonomi terimbas. Diberhentikan kerja dari perusahaan, kehilangan pelanggan, tak ada pendapatan. Lama-kelamaan yang menyebabkan kematian bukan virus, tapi kelaparan. Ah!

Masihkah kita bisa happy? Tentu tidak.

Ya jujur saya tidak bisa sepenuhnya happy, apalagi jika mengingat banyak orang-orang di luar sana yang tetap harus bekerja di tengah pandemi. 

Namun saya sadari hidup harus tetap berjalan walaupun sedang pandemi. 

Terlebih lagi sebagai seorang ibu saya adalah pusat emosi keluarga. Jika saya tidak tenang bagaimana suami dan anak? Ya saya harus tetap tenang dengan cara-cara berikut:

1. Saya harus tetap makan

Tidak ada pandemi kita harus tetap makan, apalagi ada pandemi. Mengapa? Karena imunitas tubuh kita akan diuji dengan wabah ini. Makan makanan sehat adalah salah satu cara agar tubuh tetap fit dan sehat. 

Sebagai pusat emosi keluarga, Ibu harus tetap makan, agar kuat memasak dan menghidangkan makanan sehat untuk keluarga. Jangan sampai lapar ya bu, karena lapar bikin sangar, auuum.

2. Saya harus tetap beribadah

Yap, yang ini jangan sampai ditinggalkan kecuali berhalangan. Karena di saat seperti ini kita semakin butuh Tuhan untuk menenangkan jiwa. Semakin banyak beribadah, semakin tenang, maka Ibu bisa menularkan itu kepada keluarga.

3. Saya harus tetap berpikir positif dan optimis

Setelah beribadah jiwa tenang, maka pikiran positif. Walau banyak berita negatif beredar dimana-mana, Ibu tetap optimis bahwa pandemi ini akan segera berlalu. Pikiran positif dan optimis ini ibu tularkan ke suami dan anak, maka mereka pun akan tetap tenang.

4. Saya harus tetap melakukan aktifitas di rumah seperti biasa

Walaupun pandemi menyerang, aktifitas tetap berjalan seperti biasanya. Ibu-ibu tetap dengan tugas negaranya memasak, beberes, ngurus anak dan lain sebagainya.

Karena semua anggota keluarga di rumah aja, bisa nih dijadikan momentum meningkatkan quality time keluarga dengan beberes bersama contohnya.

Buat Ibu yang juga harus bekerja dari rumah, bisa sambil mengenalkan pada anak bagaimana pekerjaan ibu yang mungkin akan menginspirasinya kelak.

5. Saya harus tetap mengembangkan diri

Di rumah aja tak berarti ibu tidak boleh belajar hal baru. Manfaatkan internet untuk mengembangkan diri. Contohnya saya hobi menulis. Selama pandemi ini saya salurkan hobi saya menulis di blog dan sosial media.

Setelah mengikuti tantangan menulis 30 hari dari sebuah akun di Instagram, tak sengaja menemukan postingan yang menawarkan kelas online "menghasilkan dari tulisan".

Jadi berpikir menjalankan hobi sekaligus dibayar. Hm sepertinya menarik. Capcus follow akun itu dan daftar kelasnya deh. Setelah ikut kelasnya, makin semangat menulis dengan tujuan yang berbeda yaitu menghasilkan dari tulisan.

6. Saya harus tetap menghasilkan

Pandemi datang, kita harus tetap punya uang. Kita harus tetap makan, bayar sekolah anak, bayar listrik dan keperluan lainnya. Namun di sisi lain penghasilan berkurang.

Contohnya saya, dirumahkan dari pekerjaan karena peraturan dilarang berkumpul. Otomatis tidak ada penghasilan.

Jangan patah semangat, tetap kreatif dan taraa saya memberanikan diri memulai usaha baru di bidang kuliner melalui platform GoFood

Ternyata usaha ini sangat membantu orang lain yang butuh makan namun tidak bisa keluar rumah. Berasa jadi pahlawan euy!

7. Saya harus tetap menghibur diri

Setelah poin-poin di atas dijalankan, jangan lupa Ibu tetap harus menghibur diri. Karena melawan pandemi sekaligus melayani anak dan suami menguras energi, sesekali Ibu ambil waktu untuk me-time sejenak. 

Lakukan hal-hal yang membuat ibu senang, misal nonton drakor, nonton YouTube, menyapa teman di sosmed, dan sebagainya. Sesudahnya, kembali lagi ke medan pertempuran dengan penuh energi.

***

Nah itulah 7 jurus anti bimbang ala saya selama menghadapi pandemi ini. Ingat ya bu, Ibu harus tetap tenang walau pandemi menyerang. 

Memang tidak mudah, apalagi kalau serangannya ke isi dompet ya bu hehe. Tetap berpikir positif, percaya pada Tuhan, dan jalani hari-hari dengan optimis. Ibu tenang, keluarga pun senang. 

About Me

A content writer and an English teacher