Fakta Kehidupan Ke-29: Allah Lebih Tahu Apa Yang Kita Butuhkan

Image by Gerd Altmann from Pixabay

BAB PENCAPAIAN HIDUP

Fakta Kehidupan Ke-29

"Kebanyakan orang khawatir adanya pesaing baru baik dalam pekerjaan maupun usaha. Padahal rezeki Allah ini Maha Luas. Mudah bagiNya membagi rezeki untuk seluruh alam semesta tanpa kurang sedikitpun. Namun Ia pun lebih tahu seberapa besar yang kita butuhkan daripada yang kita inginkan."

Raka mulai merintis usaha agen ekspedisi. Ia sangat bersemangat melayani para pelanggan yang datang, walaupun masih sedikit. Beberapa bulan kemudian ia mendapatkan informasi bahwa ada agen ekspedisi yang sama dibuka di jalan lain tak jauh dari agen ekspedisinya. 

Raka sempat khawatir agen baru tersebut akan menjadi pesaingnya. Namun ternyata pelanggannya tetap setia. Bahkan agen baru tersebut bisa menjadi alternatif jika Raka tidak bisa buka agen di hari itu. Begitu juga sebaliknya, agen baru tersebut merekomendasikan tempat Raka jika agennya sedang tutup. 

Itulah fakta kehidupan. Kita cenderung khawatir dengan adanya pesaing baru dalam usaha. Faktanya, setiap orang sudah memiliki porsi rezekinya masing-masing seperti yang sudah dibahas di fakta kehidupan ke-21. 

Namun, terkadang ada pertanyaan muncul mengapa kita yang usahanya lebih keras justru rezekinya lebih sedikit? 

Allah Swt. berfirman:

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf : 32)

Allah yang menentukan porsi rezeki kita, bukan seberapa keras kita berusaha. Meskipun begitu, jangan putus asa jika masih belum menemukan hasil yang diinginkan. Boleh jadi rezeki yang sedikit itu adalah yang sesuai dengan kesanggupan kita.

Allah Swt. berfirman:

“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah : 233)

Boleh jadi ketika kita mendapatkan rezeki yang lebih banyak justru kita terjatuh pada gaya hidup boros seperti kasus yang dibahas di fakta kehidupan ke-28. Bukannya cukup justru kurang. Oleh karena itu tetap bersyukur dan berusaha. Tujuan hidup ini bukan untuk kaya, melainkan untuk beribadah pada Allah Swt.

Faktanya, sahabat Rasulullah Saw pun ada yang sempat mempertanyakan apa esensi berusaha jika semuanya sudah ditakdirkan seperti yang dikisahkan dalam hadits berikut ini: 

“Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? 

Rasulullah saw. bersabda:

"Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara."

Kemudian beliau melanjutkan sabdanya:

"Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara."

Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini:

"Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” (Shahih Muslim No.4786)

Dari hadits di atas dapat kita ambil hikmah bahwa Allah Swt sudah menentukan orang-orang yang bahagia dan sengsara dengan kecenderungan amalan mereka.  Sekarang pilihan ada di kita. Ingin menjadi orang yang ditakdirkan bahagia atau sengsara? 


Comments