![]() |
| Image by Multimedios Del Sureste from Pixabay |
BAB PENCAPAIAN HIDUP
Fakta Kehidupan Ke-28
"Semakin besar pendapatan, semakin besar juga pengeluaran. Kita cenderung ingin bergaya hidup lebih tinggi ketika memiliki harta berlebih. Oleh karena itu harta yang lebih baik adalah cukupnya, bukan banyaknya. Karena yang banyak boleh jadi belum cukup jika kita tidak mengontrol diri."
Setelah bekerja sekian lama di perusahaan tempat ia bekerja, akhirnya Rima diangkat menjadi kepala staf keuangan. Gajinya pun naik. Di sisi lain suaminya pun mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan yang juga lebih besar. Rima pun berhasrat ingin segera memiliki kendaraan dan rumah dengan penghasilan yang cukup besar tersebut.
Tanpa berkompromi dulu dengan sang suami, ia mengambil kreditan mobil. Tak lama ia pun mengambil kreditan rumah yang cukup mewah. Gaya hidupnya semakin tinggi dengan seringnya makan di restoran mewah dan menikmati liburan di tempat wisata. Namun ternyata, di balik kemewahan itu ada suami yang tak bahagia.
Karena suatu peristiwa yang membuat Rima tak lagi percaya suaminya mengelola sendiri pendapatannya, kartu ATM sang suami pun ia pegang. Setiap bulan transferan gaji suami ia yang ambil dan suami hanya mendapat jatah uang bulanan sekian.
Dengan uang jatah sekian itu, sang suami pun harus menyisihkan untuk membantu orangtuanya, dan membiayai hidupnya di perantauan tempat bekerja. Tak ayal ia sering kekurangan uang. Terpaksa ia meminjam uang dengan teman dan saudara untuk sekedar makan, padahal gajinya lebih dari 10 juta per bulan. Subhanallah.
Itulah fakta kehidupan. Semakin banyak pendapatan, semakin banyak pula keinginan. Akhirnya jadi besar pasak daripada tiang.
Allah Swt. berfirman:
“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqaan:67).
Ayat di atas memberi hikmah pada kita agar menggunakan harta secara proporsional. Tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan.
Boleh jadi kasus Rima dan suaminya terjadi akibat komunikasi yang kurang baik. Sang istri menginginkan penghasilan mereka dibelanjakan untuk ini dan itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa sang suami pun memiliki kebutuhan yang harusnya lebih diutamakan daripada membelanjakan harta lain yang bersifat tersier. Rima cenderung ingin terlihat kaya dengan memiliki harta mewah.
Setiap harta yang kita miliki akan dipertanggungjawab kelak di akhirat, seperti sabda Rasulullah Saw. berikut ini:
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR at-Tirmidzi no. 2417).
Oleh karena itu, sebelum membelanjakannya untuk hal-hal yang bersifat kemewahan, alangkah baiknya kita utamakan kebutuhan utama. Boleh jadi hasrat ingin terlihat mewah malah berujung nestapa layaknya suami Rima yang menderita walau gajinya digit dua.

Comments
Post a Comment