Fakta Kehidupan Ke-2: Belajar Ikhlas

 

Image by Syed Ali Mehdi from Pixabay

Fakta Kehidupan Ke-2

“Apa yang sudah kita lakukan belum tentu dihargai dengan pantas, atau bahkan tidak dibalas langsung dengan kebaikan yang sama. Belajarlah ikhlas.”

Nur adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ia seorang yang dermawan dan senang membantu, terutama membantu saudaranya sendiri. Salah satu adiknya menghadapi kesulitan ekonomi semenjak menikah. Tentu saja Nur tidak diam. Ia membantu dengan senang hati, mulai dari memberi modal usaha, memberi tempat tinggal sementara, hingga membantu biaya yang dibutuhkan keponakannya. Namun, air susu dibalas air tuba. Sang adik bukannya berterimakasih dan membalas kebaikan Nur. Ia malah memusuhi Nur dan menyebarkan fitnah tentang Nur kepada orang-orang.

Hal ini disebabkan ia kecewa dengan keputusan Nur yang mengizinkan rumah orangtua mereka dijual setelah ayah mereka wafat. Ia merasa diusir dari tempat ia tinggal selama ini, meskipun ia dapat bagian warisan. Nur pun kecewa dengan sikap adiknya tersebut, mengingat apa yang sudah Nur berikan selama ini jauh lebih banyak dibandingkan apa yang adiknya anggap sebagai kesalahan. Tidak sepantasnya sang adik memusuhi Nur. Namun, itulah yang terjadi. Sang adik tidak menghubungi dan mengunjungi sekian tahun lamanya. Ia pun pindah ke luar kota tanpa berita. Pada akhirnya Nur wafat dan sang adik tetap dalam kebenciannya.

Itulah fakta kehidupan yang terjadi. Kita sudah melakukan kebaikan pada orang lain, namun orang lain belum tentu membalasnya. Yang sedih kita malah mendapat perlakuan buruk. Adilkah? Tentu tidak. Kita pasti merasa kecewa dan marah. Namun itulah faktanya.

Hal seperti ini bisa terjadi dimana saja. Di sekolah, kantor, bahkan dalam keluarga sendiri. Kalau begitu, kita tidak perlu berbuat baik saja agar tidak sakit hati. Jangan! Tetap berbuat baiklah walau kita tau yang bersangkutan tak akan membalasnya. Karena ketika berbuat baik maka kita sedang menanam pohon kebaikan yang akan berbuah suatu saat. 

Allah Swt. berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (QS. Al Isro [17] : 7)

 

Namun, jika perbuatan baik kita justru menimbulkan masalah baru sebaiknya dipertimbangkan kembali sebelum melakukan.

 

Ada orang-orang yang bermaksud meminta tolong tapi justru menjadikan kita korban dalam permainannya. Contoh kasus ada seorang saudara yang meminta dibayarkan utangnya, karena ia sudah tidak ada cadangan uang. Sekali dibayarkan utang bukannya berhenti, malah semakin bertambah. Merasa selalu ditolong oleh kita, ia justru memanfaatkan kita untuk menyelesaikan setiap masalahnya. Orang yang seperti ini perlu diberi ketegasan dengan menghentikan pertolongan sampai ia menghentikan kebiasaan buruknya itu.


Comments